
Purwokerto, karena aku terlahir di tempat ini, maka aku adalah anaknya. Ya, aku adalah anak Purwokerto. Dan aku bangga menyandang gelar itu. Sebuah kehormatan besar dapat terlahir di tempat seperti ini, rasanya seperti mimpi. Bayangkan saja, siapa yang tidak bangga terlahir di sebuah kota seperti kotaku ini?. Kota dengan julukan Kota Satria, karena begitu banyak Ksatria yang terlahir di atas tanahnya, menghirup bebas udaranya, tumbuh hingga menghembuskan nafas terakhirnya di tempat ini. “Seberapa banyak ?”. Apakah kau bertanya seperti itu? Maka jawabannya adalah “Tidak terhitung!”.
Apakah kau mengenal salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia yang bernama R. Supratman?. Jika kau membaca sejarahnya, kau akan tahu bahwa beliau lahir di Purwokerto. Lalu pengarang Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari. Tidak lupa Prof. Dr. Magono Soekardjo, seorang ahli bedah pertama di Indonesia. Mereka semua adalah anak-anak Purwokerto. Dan masih banyak lagi Ksatria lain yang tentunya tidak dapat aku sebutkan. Karena aku yakin kau akan bosan membacanya. Yang jelas, sejak aku tahu bahwa aku terlahir di kota Satria, tempat Para Ksatria itu lahir, aku mulai bermimpi jika suatu saat nanti aku akan menjadi salah satu dari Para Ksatria itu. Karena bagiku, Ksatria adalah pejuang pembela kebenaran, apapun bentuknya. Siapapun yang berjuang untuk orang lain maka ia patut mendapatkan gelar Ksatria. Bukankah aku sendiri terlahir di kota Satria? Maka semua anak Purwokerto adalah calon Ksatria itu, termasuk aku. Karena aku yakin Kota Satria akan terus melahirkan lebih banyak lagi Ksatria masa depan untuk Indonesia bahkan Dunia. Karena itulah ia dijuluki sebagai Kota Satria sampai sekarang.
Mungkin zaman memang sudah banyak berubah, Purwokerto yang dulunya banyak melahirkan Ksatria unggulan, namun akhir-akhir ini sepertinya sinarnya mulai meredup. Nampaknya, arus globalisasi sudah mulai menjamah kotaku ini. Begitu banyak kebudayaan lain yang masuk dan mulai melunturkan budaya asli kami. Bukankah para Ksatria itu tumbuh dan dibesarkan dengan budaya nenek moyang jaman dulu?. Saat budaya kami masih dijunjung tinggi, mereka melahap semua nilai-nilai budaya itu dan akhirnya menjadikan mereka seorang Ksatria yang hebat. Jadi, peran dari budaya sebenarnya sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian masyarakat kami.
Kalau kau ingin tahu mengenai asal-usul kotaku ini mendapat julukan Kota Satria, sebenarnya sebutan ini menunjukkan sifat masyarakat Banyumas, khususnya Purwokerto yang “cablaka”, atinya jujur, terbuka (berterus terang), tulus, ikhlas, setia, dan berani. Kemudian dari sifat-sifat masyarakatnya yang seperti Ksatria ini, akhirnya ditetapkanlah “Satria” sebagai motto pembangunan kota Purwokerto, yang artinya Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah, dan Aman. Jika kau tidak percaya bahwa sifat masyarakat Purwokerto ini seperti Satria, cobalah cermati bahasa khas daerah kami. Ya, kami memang mempunyai bahasa daerah yang khas. Karena kami tinggal di Pulau Jawa, maka bahasa daerah kami tentunya adalah bahasa Jawa. Namun bahasa Jawa yang kami gunakan sehari-hari, berbeda dengan bahasa Jawa biasa yang umumnya dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Daerah kami, khususnya wilayah Banyumas mempunyai satu bahasa ibu yang khas. Sebuah bahasa unik yang apabila kau mendengar orang lain menggunakan bahasa ini, kau pasti akan langsung dapat menebak bahwa orang itu berasal dari daerah kami, atau lebih luasnya dari daerah Jawa Tengah bagian Barat. Kau mungkin akan tertawa saat pertama kali mendengar cara pengucapan bahasa kami, walaupun kami sedang berbicara bahasa Indonesia. Karena memang logat bahasa kami yang “medhok” terdengar lucu di telinga orang lain. Bahasa kami ini adalah bahasa Banyumasan atau lebih dikenal dengan sebutan “bahasa ngapak”.
Lalu apa hubungannya bahasa ngapak dengan sifat satria pada masyarakatnya?. Tentu saja ada hubungannya. Karena menurut penelitian, bahasa sedikit banyak akan mempengaruhi kepribadian pada masyarakatnya. Jika kita dengarkan lebih teliti, maka kita akan tahu kalau bahasa Jawa ngapak agak berbeda dengan bahasa Jawa yang ada di Yogyakarta/Solo. Dalam bahasa kami, kata diucapkan sesuai dengan penulisannya, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Misalnya saja kata “rekasa” dalam bahasa kami tetap diucapkan “rekasa”, walaupun di daerah “wetan” diucapkan “rekoso”. Hal ini dikarenakan Bahasa ngapak bersumber dari bahasa Kawi (Jawa kuno), terbukti dalam kata “rika” (kamu) yang juga terdapat dalam bahasa Sansekerta. Dalam bahasa Sansekerta pun huruf “a” tetap diucapkan “a”. Inilah gambaran masyarakat yang jujur, terbuka, dan suka berterus terang. Selain itu, dalam bahasa kami terdapat penekanan-penekanan pada huruf “k”. Contohnya kata “Bapak”, maka kami akan tetap mengucapkan “Bapak” atau mungkin ada yang menambahkan huruf “e” menjadi “Bapake”. Beda halnya dengan bahasa di Yogyakarta/Solo, disana huruf “k” di akhir kata diucapkan samar-samar. Jadi kata “Bapak” akan diucapkan “Bapa”.
Pada zaman dahulu, sebelum adanya sistem kerajaan, masyarakat Jawa tidak mengenal unggah-ungguh basa atau perbedaan tingkatan bahasa untuk orang yang lebih dihormati. Setelah kerajaan Mataram berdiri, barulah dibuat unggah-ungguh basa. Salah satu tujuannya adalah untuk menciptakan jarak sosial antara anggota kerajaan Mataram dengan masyarakat biasa di luar lingkaran kerajaan. Namun karena wilayah Banyumas termasuk lingkar luar kekuasaan Mataram atau pada saat itu disebut “mancanegara kulon”, maka perubahan tata bahasa ini tidak begitu terasa, sehingga sampai sekarang dalam bahasa Banyumas tetap tidak ada perbedaan dalam berbahasa. Namun, bukan berarti bahasa kami tidak memiliki rasa kesopanan terhadap orang yang lebih tua. Dalam hal ini kami menganggap bahasa ngapak adalah bahasa rakyat. Tidak ada masyarakat yang di tinggikan maupun yang lebih rendah. Dengan kesamaan kedudukan seperti ini, membuat masyarakat Banyumas menjadi lebih suka bergotong royong.
Sebenarnya, begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari bahasa ngapak, bahasa Jawa kuno yang masih ada hingga sekarang. Warisan dari kebudayaan nenek moyang zaman dahulu yang harus kita lestarikan. Namun sayangnya, bahasa ini kini mulai ditinggalkan oleh putra-putrinya. Mereka umumnya merasa malu jika berbicara dengan menggunakan bahasa ngapak di daerah lain. Hal ini disebabkan karena pemikiran masyarakat bahwa bahasa ngapak itu adalah bahasa para pelawak dan bahasa kaum rendahan. Apalagi dengan adanya globalisasi yang memudahkan kebudayaan asing masuk, menyebabkan bahasa ngapak dianggap sudah tidak modern lagi atau kuno. Alangkah baiknya jika pemikiran ini segera dihapuskan dari hati masyarakat. Seharusnya kita tidak perlu malu melihat orang lain tertawa mendengar cara kita berbicara. Justru kelucuan logat ngapak ini dapat mengakrabkan seseorang. Jika bahasa ngapak ini benar-benar punah, maka etnis Banyumasan pun turut menghilang, karena tidak ada lagi identitas yang membedakannya dengan etnis lain. Untung saja saat ini masih ada Ksatria penyelamat bahasa ngapak seperti Ahmad Tohari, grup lawak “curanmor”, dan Ksatria lain yang masih mau mengembangkan bahasa ngapak Banyumasan.
Selain bahasa, masih ada kebudayaan lain yang mencerminkan sifat Ksatria masyarakat Purwokerto. Dalam hal kuliner mungkin kau pernah mendengar makanan mendoan, makanan khas daerah kami. Makanan ini terbuat dari tempe yang dilapisi tepung terigu dan digoreng setengah matang. Rasanya sangat lezat. apalagi jika disajikan dengan cabe rawit atau sambel kecap dan dinikmati saat udara dingin. Kalau tidak percaya silakan saja coba makanan ini dengan berkunjung ke kotaku. Atau kau bisa mencarinya di warung mendoan terdekat, namun harganya pasti lebih mahal daripada jika kau membeli di Purwokerto. Di sini kau dapat mencicipinya hanya dengan membayar Rp 750,00. Murah bukan?.
Terlepas dari rasa mendoan yang lezat, ternyata makanan ini juga mengandung filosofi yang cukup dalam. Mendoan memang sengaja digoreng setengah matang agar bentuknya tidak kaku. Ini dimaksudkan agar karakter masyarakat Banyumas harus fleksibel, mudah bergaul dengan orang lain. Tapi kalau sampai disakiti, masyarakat Banyumas dapat berubah menjadi kripik yang berwatak keras. Kau juga bisa mencicipi kripik tempe khas Purwokerto di daerah Sawangan, Purwokerto. Rasanya gurih, tidak kalah lezat dengan mendoan.
Tidak ketinggalan, masyarakat Banyumas pun memiliki senjata yang khas, yaitu Kudi. Kudi berbentuk berbentuk agak melengkung menyerupai celurit tetapi bagian pangkalnya membesar. Masyarakat Banyumas percaya bahwa kata Kudi berarti “kudu dadi” yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya “harus jadi”. Masyarakat kami beranggapan bahwa jika kita mempunyai kemauan maka harus bisa terlaksana. Bentuk Kudi yang menggelembung seperti perut pun mempunyai pesan bahwa di dalam hidup, kita tidak boleh hanya menuruti nafsu, tetapi yang lebih penting adalah berusaha dan bekerja. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan perut Kudi yang dapat membelah benda-benda yang keras. Sayangnya pejabat-pejabat Banyumas saat ini lebih sering memilih Keris daripada Kudi sebagai pelengkap busananya. Padahal Kudi lah identitas masyarakat Banyumas yang mencerminkan karakter warga Banyumas.
Jika saja masyarakat Purwokerto dan seluruh daerah di Indonesia lebih memerhatikan kearifan lokal budaya daerahnya. Maka aku yakin, Indonesia akan melahirkan banyak Ksatria-ksatria yang hebat. Indonesia dengan berbagai macam budaya seharusnya mampu menjadi sebuah Negara yang hebat. Karena di setiap sendi budaya terdapat banyak pelajaran yang dapat menuntun kita menjadi manusia yang berbudi luhur. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya? termasuk nenek moyang yang dulu mengajarkan nilai-nilai luhur kepada putra-putrinya.
Terkadang hebat itu bukan karena kau bisa mengetahui berbagai macam pengetahuan di dunia, mengikuti arus kemajuan zaman yang tidak pernah berhenti. Budaya telah mengajarkan kita banyak hal. Tapi seberapa banyak dari kita yang justru menganggap budaya itu kuno dan tidak modern?, seperti kacang lupa pada kulitnya.
Komentar
Posting Komentar
Aku tunggu komentarnya ya!