
Ada
salah satu nasehat yang terus aku pegang sampe sekarang,
"Karena kita orang miskin, kita butuh lompatan yang besar untuk bisa sukses. Kamu harus memilih. Terkadang diam atau melompat itu perbedaannya tipis sekali."
Lalu suatu hari ia mengirimkan video seorang anak kecil yang sedang berlatih memecahkan balok dengan tangan. Awalnya ia berkali-kali gagal hingga mau menangis, namun pelatih dan teman-teman di sekelilingnya tidak mengejeknya, justru bersorak menyemangatinya. Akhirnya dia bisa memecahkan balok itu. Ah, indahnya lingkungan yang saling mendukung...
Ya, aku setuju jika kesuksesan seseorang sebagian besar ditentukan oleh struktur. Tapi struktur yang bagaimana yang masih bisa kita kendalikan? Dalam hidup ini ada sesuatu yang bisa kita kendalikan, ada yang tidak bisa kita kendalikan. Seperti yang dikatakan para penganut filsafat stoikisme, kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita lahir, di lingkungan seperti apa kita dibesarkan. Namun tindakan dan pikiran yang kita pilih akan mempengaruhi hasil yang kita dapatkan. Daripada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin agar lebih terang. Terus berusaha dan mendukung satu sama lain untuk melakukan "lompatan" gila yang mungkin kau sempat meragukannya.
Membebankan kesuksesan pada individu memang bukan sikap yang bijak, banyak faktor eksternal yang mempengaruhinya. Lingkungan keluarga? Orang dalam? Faktor ekonomi? Ras? yang jelas kesuksesan juga dipengaruhi oleh lingkungan orang-orang yang mendukungmu untuk berkembang. Sebuah privilige yang nggak semua orang mendapatkannya.
Ah ya, bicara tentang privilege, aku jadi teringat
sebuah postingan salah satu anak muda yang bisa dibilang sukses di usia muda,
iman usman. Suatu hari ia membuat "pengakuan dosa"nya di Instagram
yang cukup membuat kita sedikit bersyukur sekaligus membangun empati......
......
Lintang Ayu Saputri
Purwokerto, 24 Juni
2020
Komentar
Posting Komentar
Aku tunggu komentarnya ya!