PRIVILEGE DAN KESUKSESAN HIDUP

Grayscale Photography of People Walking Near Buildings

Ada salah satu nasehat yang terus aku pegang sampe sekarang,

"Karena kita orang miskin, kita butuh lompatan yang besar untuk bisa sukses. Kamu harus memilih. Terkadang diam atau melompat itu perbedaannya tipis sekali."


Lalu suatu hari ia mengirimkan video seorang anak kecil yang sedang berlatih memecahkan balok dengan tangan. Awalnya ia berkali-kali gagal hingga mau menangis, namun pelatih dan teman-teman di sekelilingnya tidak mengejeknya, justru bersorak menyemangatinya. Akhirnya dia bisa memecahkan balok itu. Ah, indahnya lingkungan yang saling mendukung...


Ya, aku setuju jika kesuksesan seseorang sebagian besar ditentukan oleh struktur. Tapi struktur yang bagaimana yang masih bisa kita kendalikan? Dalam hidup ini ada sesuatu yang bisa kita kendalikan, ada yang tidak bisa kita kendalikan. Seperti yang dikatakan para penganut filsafat stoikisme, kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita lahir, di lingkungan seperti apa kita dibesarkan. Namun tindakan dan pikiran yang kita pilih akan mempengaruhi hasil yang kita dapatkan. Daripada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin agar lebih terang. Terus berusaha dan mendukung satu sama lain untuk melakukan "lompatan" gila yang mungkin kau sempat meragukannya.


Membebankan kesuksesan pada individu memang bukan sikap yang bijak, banyak faktor eksternal yang mempengaruhinya. Lingkungan keluarga? Orang dalam? Faktor ekonomi? Ras? yang jelas kesuksesan juga dipengaruhi oleh lingkungan orang-orang yang mendukungmu untuk berkembang. Sebuah privilige yang nggak semua orang mendapatkannya.


Ah ya, bicara tentang privilege, aku jadi teringat sebuah postingan salah satu anak muda yang bisa dibilang sukses di usia muda, iman usman. Suatu hari ia membuat "pengakuan dosa"nya di Instagram yang cukup membuat kita sedikit bersyukur sekaligus membangun empati......

......

Saya pernah post tulisan ini tahun lalu. Cuma entah kenapa, pagi ini pengen ngepost ulang lagi. I think it is important to talk about this issue as much as we talk about how 'grit' helps us to level up.

It is an important reminder to all of us. Bisa dibilang, saya sendiri adalah advokat 'grit'. Kerja keras, kerja keras, kerja keras. Tapi penting untuk tidak mengabaikan juga fakta, bahwa meskipun kita sama-sama bekerja keras, ada ketimpangan yang membuat hasil yang diperoleh bisa berbeda-beda. Kita kadang lupa, bahwa tidak semua orang bahkan memiliki kesempatan atau latar belakang yang memungkinkan setiap orang untuk memiliki aspirasi tertentu.

Misalnya saya.
Saya tahu persis nggak semua orang mendapatkan keistimewaan (privileges) seperti yang saya peroleh. Ada mereka yang harus hidup di tengah keluarga yang retak. Ada mereka yang harus terpaksa bekerja sambil sekolah buat membantu finansial keluarga. Ada mereka yang tumbuh di daerah yang nggak punya akses internet. Ada banyak orang yang punya 'struggle' nya masing-masing.


Kita perlu sadar bahwa ada banyak 'privileges' yang kita miliki. Nggak perlu 'denial' terhadap hal tersebut. Dengan segala 'privileges' yang kita miliki tersebut, bodoh kalo kita nggak memanfaatkannya dengan baik. Namun, bukan itu point nya.

Jika kita memiliki 'privileges', syukuri hal tersebut. Berempatilah kepada mereka yang tidak punya kesempatan yang sama seperti kita. Bantu mereka untuk bisa 'level up', syukur-syukur kalo bisa dalam skala yang besar. Semakin besar 'privilege' nya, semakin besar tanggungjawabnya.

Kenapa? Karena kita nggak lari dari garis yang sama. Karena, jikalau semua orang begitu, mungkin kita tidak akan berada di posisi kita hari ini.

I am grateful and fully aware of my privileges. I hope that I can use those privileges to support and empower others."



Lintang Ayu Saputri

Purwokerto, 24 Juni 2020

 

Komentar