
Sebagai
manusia, pada awalnya kita tidaklah bisa memilih pada keluarga seperti apa kita
akan dilahirkan. Apakah akan lahir dari keluarga miskin, atau kaa? Dari Etnis
Jawa, Bugis, Batak,atau Tionghoa? Dari keluarga yang menganut agama Islam,
Kristen, Hindhu, Budha, Konghuchu, atau aliran kepercayaan? Akan lahir di
Purwokerto, Papua, atau Amerika? Tidak ada satupun yang dapat memilihnya.
Namun
identitas yang terbentuk seiring dengan perjalanan yang kita lalui itu dapat
kita pilih. Tentu saja dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu seseorang
dapat menjadi seseorang yang mempraktikkan budaya Jawa atau Korea, menjadi
penganut agama Islam atau Kejawen? Menjadi orang Tionghoa atau Indonesia? Semua
itu memang pilihan, dan kita bebas memilih idenitas apa yang ingin kita jalani.
Lalu
apa lagi gunanya perbedaan warna kulit, perbedaan tempat tinggal, perbedaan
budaya? Bukankah itu pada akhirnya hanya perbedaan-perbedaan yang kita pilih
atas kehidupan kita? Kita semua sama, walaupun jalan yang kita tempuh
berbeda-beda. Kita sama-sama suka jika dipuji, sama-sama sedih jika terluka,
sama-sama tertawa ketika bahagia. Ketika tidak ada batas antara aku dan kamu,
kita sama-sama menyadari bahwa kita sama. Sama-sama Manusia!
Namun
mengapa akhirnya banyak yang menjadi seseorang yang merasa paling benar sendiri
dan kemudian menyalahkan perbedaan yang dimiliki oleh orang lain? Banyak hal
yang mempengaruhi kita melakukan diskriminasi terhadap orang lain. Antara lain
adalah stereotip-stereotip negative dan kebencian yang diwariskan dari generasi
ke generasi. Di dalam keluarga, di lingkungan pertemanan, bahkan di dalam
institusi formal seperti sekolah dan pemerintahan. Padahal teman, bukankah kita
sama?
Selama
empat hari saya bersama-sama satu rumah bersama teman-teman yang berbeda etnis,
agama, dan budaya saya kemudian berpikir, apa yang membuat kita berbeda? Jika
kita bisa tertawa bersama, saling curhat dan terbuka. Sama-sama mengalami
masalah ataupn pengalaman yang berkesan? Terkadang stereotip-stereotip memang
sengaja dilesatarikan karena terdapat kepentingan pada sekelompok orang atau
golongan.
Memupus
Prasangka dengan Kepekaan dan Kejujuran
Belajar
toleransi adalah belajar kepekaan dan kejujuran. “Peka” artinya kita dapat
meahami apa yang orang lain rasakan, apa yang orang lain inginkan. Memandang
orang lain bukan dari sudut pandang kita, namun dari sudut pandangnya sendiri.
Menganggap bahwa orang lain bukanlah sekedar objek, mereka juga sebuah subjek
yang mempunyai suatu pandangan sendiri. Apa yang orang lain lakukan tentu
mempunyai suatu alasan. Apa yang orang lain pilih tentu merupakan bagian dari
keputusannya sendiri. Lalu bagaimana agar kita dapat menjadi peka? Sebelum kita
menjadi seseorang yang peka terhadap orang lain, satu hal kunci yang harus kita
latih adalah “kejujuran”. Saya yakin pada dasarnya Tuhan telah menciptakan
manusia dengan hati nurani yang dapat memilah apakah sesuatu itu pantas untuk
kita lakukan atau tidak, apakah sesuatu yang kita lakukan akan menuju ke jalan
kebaikan atau tidak. Namun kadangkala kita menyangkal kata hati kita atas
pertimbangan-pertimbangan tertentu yang mungkin disebabkan karena kita mengikuti
hawa nafsu untuk kepentingan pribadi, seperti kekuasaan, harga diri, ekonomi,
dan lain-lain.
Disinilah
kita perlu belajar kejujuran!. Jujur bahwa kita tidak boleh menyakiti hati
orang lain, meskipun itu hanya dalam tahap prasangka, hanya di dalam hati saja.
“Eh itu ada si Cina, pasti dia pelit!,” misalnya. Jika kita mau jujur dan
berpikir rasional, seharusnya kita tidak akan mempunyai prasangka seperti itu,
karena tidak semua orang itu sama. Prasangka-prasangka ini memang harus
dipupus. Karena prasangka-prasangka seperti inilah yang dapat meghancurkan
interaksi antar manusia yang berbeda, baik itu dalam suatu kelompok atau dalam
suatu Negara. Bagaimana bisa kita menyalahkan orang lain jika kita bukanlah
dirinya? Yang diperlukan disini adalah sebuah dialog. Dialog yang mengandaikan
adanya kesetaraan didalamnya. Bukan sikap sok bijak menasehati dan menyalakan,
menganggap orang lain tersesat dan kitalah yang berada di jalan yang benar.
Jika masing-masing pihak seperti itu, peka dan jujur, maka tidak aka nada
prasangka, tidak aka nada perpecahan, yang ada hanyalah perdamaian. Indah
sekali bukan?.
Pemimpin
yang bijaksana menghasilkan rakyat yang toleran
Secara
alamiah, ketika ada masyarakat yang mempunyai perbedaan dan tinggal bersama,
mereka akan saling pengaruh-mempengaruhi. Baik itu suami-istri, teman,
keluarga, atau masyarakat secara umum. Dalam hubungan saling mempengaruhi itu,
secara natural juga akan menyesuaikan diri, saling menghargai satu sama lain,
dan menganggap antar satu dan yang lain pada dasarnya adalah sama, mungkin
karena telah mempunyai ikatan batin ya?. Namun itu semua tidak cukup untuk
menciptakan sebuah masyarakat yang pluralis.
Terdapat
satu hal yang sangat penting bagiku dalam menciptakan masyarakat yang bisa
saling menghargai satu sama lain, yaitu “Pemimpin”. Pemimpin adalah sosok yang
dapat menentukan suatu kebijakan, seseorang yang mempunyai otoritas untuk
mengatur rakyatnya. Jika pemimpinnya buruk, tidak mempunyai komitmen untuk
membudayakan toleransi, atau bahkan memanfaatkan perbedaan kelompok untuk
kekuasaan, toleransi dapat dipastikan tidak akan tercipta, rakyat tidak akan
sejahtera.
Misalnya
saja ketika zaman kolonial Belanda, pihak kolonial secara sengaja memisahkan
golongan antara orang Eropa, Asia Timur, dan Pribumi. Orang Etnis Tionghoa yang
sejak dulu memang sudah ada di bumi Nusantara diberi hak khusus untuk mengelola
perekonomian. Sedangkan Pribumi di golongan paling bawah menjadi
pekerja-pekerja kasar. Selain itu, terdapat kebijakan pemisahan perumahan bagi
Tionghoa dan Pribumi, sehingga muncullah istiah Kampung Pecinan. Hal itu
semakin menambah jarak antara Tionghoa dan Pribumi. Setelah revolusi
Kemerdekaan Republik Indonesia, sayangnya stereotip Pribumi-non Pribumi pun
masih terjadi sampai sekarang.
Masyarakat
Lasem tampaknya beruntung, karena mereka mempunyai pemimpin yang toleran,
bersikap professional dalam mengangkat pejabatnya. Secara tata ruang kota, Di
Lasem, terdapat Klenteng di tengah-tengah pesantren, terdapat pula masjid jami
yang terdapat di kawasan pecinan. Di Desa Soditan sendiri, di satu kompleks
terdapat dua gereja, klenteng, vihara dan masjid. Tidak ada konflik yang
berarti di tempat ini karena masyarakatnya sudah terbiasa membaur.
Kebijakan-kebijakan yang bijaksana seperti inilah yang seharusnya dilestarikan.
Miris sekali jika sampai saat ini pemerintah Indonesia masih bersikap
diskriminatif terhadap golongan tertentu. Untuk mempunyai pemerintahan yang
bijaksana mungkin bisa dimulai dari diri sendiri, teman, keluarga, komunitas,
hingga satu wilayah seperti kota Lasem bahkan di seluruh Indonesia.
Komentar
Posting Komentar
Aku tunggu komentarnya ya!