MENGEMBALIKAN HUTAN SUKU TOGUTIL

Forest Photography

Nan jauh di pedalaman Halmahera, hiduplah sekelompok suku yang biasa dipanggil dengan sebutan suku Togutil. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka tinggal di hutan belantara yang sulit di tembus manusia. Mereka hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Hutan, sungai, alam adalah sahabat mereka.

Pada suatu hari,
“Kepala suku, kepala suku!” Aldama menghadap kepala suku dengan tergesa-gesa.
“Iya ada apa Aldama? uhuk uhuk...” Kepala suku yang sudah renta menjawab sambil terbatuk.
“Baru saja aku melihat sekelompok manusia membawa gergaji. Sepertinya ingin menebang hutan kita lagi.”  Kata Aldama.
“Ah manusia-manusia itu lagi, sampai kapan mereka akan seperti ini. Kemarin saja mereka sudah menghabiskan hutan di sebelah timur. Sekarang apa yang harus kita lakukan Aldama ? Apakah kita harus berpindah tempat lagi?” Tanya Kepala suku.
“Saya kira kita tidak dapat berdiam diri terus menerus. Kita harus cepat bertindak. Kalau tidak, lama kelamaan hutan kita akan habis. Dan kita tidak mempunyai tempat tinggal lagi.” Seru Aldama.
“Baiklah kalau begitu, aku serahkan permasalahan ini padamu. Aku sudah terlalu tua untuk menghadapi masalah seperti ini.” Kata Ketua Suku.
“Baik, saya akan mencoba memikirkan jalan keluarnya, Kepala Suku.” Jawab Aldama
Malam harinya, Aldama tidak dapat tidur karena memikirkan kejadian tadi. Ia tidak rela apabila hutan tempat tinggalnya  yang selalu ia jaga, hilang dalam sekejap karena ulah manusia-manusia rakus itu.Tiba-tiba ia teringat akan peri penjaga hutan yang tinggal di pedalaman Tobelo. Ia berniat untuk menemui sang peri keesokan harinya.
“Saya kemari untuk meminta doa restu agar bisa bertemu peri penjaga hutan”. Kata Aldama saat menghadap kepala suku.
“Aku akan merestuimu Aldama. Ingatlah baik-baik bahwa untuk bertemu sang peri, kau harus mempunyai hati yang tulus. Tidak sembarang orang dapat bertemu sang peri.” Kata Kepala Suku.
“Terima Kasih Kepala Suku.” Jawab Aldama
Aldama pun memulai perjalanannya menuju pedalaman Tobelo. Perjalanannya memakan waktu satu hari penuh.

 Hari mulai gelap, Aldama pun beristirahat di bawah pohon Beringin di dalam hutan.
Tiba-tiba ia bertemu dengan seekor serigala yang sedang kesakitan. Dengan rasa takut, Aldama mencoba mendekati serigala itu. Ia pun mengobati serigala dengan obat yang berasal dari tanaman di hutan. Setelah selesai di obati serigala itu berkata pada Aldama “Terima kasih atas pertolonganmu wahai pemuda. Ambillah ini sebagai tanda terima kasihku.” Kata serigala itu sambil menyerahkan kotak penuh dengan perhiasan.
Aldama terkejut melihatnya, lalu ia menjawab “Tidak, terima kasih serigala, aku membantumu dengan tulus. Aku kemari hanya ingin bertemu dengan peri penjaga hutan” Jawab Aldama.
Serigala itu pun tersenyum, kemudian menampakkan wujud aslinya. Ternyata dialah peri penjaga hutan yang dicari oleh Aldama.
“Akulah peri penjaga hutan, Aldama.” Kata sang Peri.
“Oh peri, rupanya serigala yang tadi ku tolong adalah engkau.” Aldama tertegun.
“Iya Aldama, ada keperluan apa sehingga kau jauh-jauh ingin bertemu dengan ku?.” Tanya sang Peri.
“Aku kesini ingin meminta bantuanmu Peri. Manusia-manusia rakus itu kembali ingin menebang hutan tempat kami tinggal.” Kata Aldama.
“Manusia-manusia itu lagi ?! Sudah berapa kali aku peringatkan mereka. Namun ternyata mereka tidak jera juga! Terakhir kali aku peringatkan mereka, mereka sudah berjanji tidak akan menebangi hutan lagi. Namun mereka mengingkari janjinya!” Kata sang Peri kesal.
Aldama terdiam mendengarkan ucapan sang peri.
“Baiklah, tanam ini di seluruh hutan. Ini adalah tanaman ajaib yang dapat tumbuh lebat dan akan menutupi seluruh hutan. Dengan tanaman ini, manusia-manusia itu pasti akan kebingungan dan tersesat di dalam hutan. Kata sang peri sambil menyerahkan sekantung tunas tanaman.
Aldama pun berterima kasih kepada Peri dan meminta ijin untuk segera pulang karena manusia penebang kayu sudah semakin dekat dengan kampung suku Togutil.
Sesampainya di Kampung suku Togutil, suara-suara gergaji mulai keras terdengar. Para warga sudah bersiap-siap untuk berpindah tempat. Namun Aldama berteriak dengan keras
“Para warga jangan khawatir, saya pulang membawa tunas ajaib pemberian Peri Penjaga hutan!” Seketika warga-warga pun berkumpul mengelilingi Aldama. Lalu Aldama meminta masing-masing warga untuk menanam satu pohon di seluruh hutan. Karena persatuan suku Togutil, mereka selesai menanam sekantung tunas ajaib itu. Tidak lama kemudian, tunas-tunas itu tumbuh dalam sekejap dan menutupi seluruh hutan. Suara-suara gergaji pun mulai berhenti. Hutan suku Togutil kembali hijau. Pohon-pohon itu melindungi kampung suku Togutil dari tangan-tangan manusia serakah. Keesokan harinya, Aldama menemukan para penebang pohon itu sudah mati tertimpa pohon yang mereka tebangi.
“Itulah akibat dari keserakahan”. Ucap Aldama dalam hati.

Sejak saat itu tidak ada lagi manusia yang dapat menemukan tempat tinggal suku Togutil. Suku Togutil selalu menanam satu buah pohon setiap ada satu orang bayi yang baru lahir sebagai ucapan terima kasih pada alam karena telah menjaga mereka.

Lintang Ayu Saputri
Purwokerto, Agustus 2014

Komentar