
Kemarin aku kehilangan seseorang, sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia pergi. Dulu pun dia sudah mencoba pergi. Aku masih ingat, saat itu aku menangis di kamar kecilku sedangkan dia mencoba menenangkanku. Katanya ini demi masa depanku. Aku tetap saja tidak ingin dia pergi jauh, apapun alasannya. Namun kata-katanya selalu saja dapat meluluhkanku. Dan akhirnya dia pun pergi. Tidak lama setelah dia pergi, dia segera kembali. Mungkin saat itu dia masih tidak tega meninggalkanku. Dan kemarin kejadian itu terulang lagi...
Bintang...
Aku tidak ingin air mata ini kembali mengalir saat melepasnya pergi. Aku tau, sebagai seorang kepala rumah tangga dia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menafkahi keluargaku. Namun rasanya terlalu sulit untuk berpisah jauh darinya. Banyak sekali kenangan-kenangan yang selalu mengingatkanku padanya. Dia itu sungguh berbeda, tidak seperti ayah yang lainnya. Namanya awan, dia selalu mengajarkanku tentang kebaikan hidup. Dia seperti seorang ayah sekaligus teman baik bagiku. Saat mendengar bahwa dia akan pergi lagi, aku tidak tau harus bagaimana. Kali ini aku mencoba untuk menjadi dewasa. Mencoba mengerti bahwa inilah yang dia pilih.
Kau tahu kan, bintang...
Keluargaku bukanlah keluarga yang hidup bergelimangan harta. Orang tuaku dulunya hanyalah pasangan wiraswasta, namun sekarang bukan lagi. Karena sejak kemarin ayahku sudah resmi bukan menjadi wiraswasta lagi. Hidup dengan membuat usaha kecil-kecilan sepertinya kurang mencukupi kebutuhan kami. Ditambah lagi aku yang sebentar lagi akan masuk ke perguruan tinggi. Mungkin inilah yang menjadi alasan ayahku untuk pergi meninggalkan kami sekeluarga ke ibu kota. Disana dia akan membangun gedung-gedung tinggi yang berlomba-lomba untuk sampai ketempatmu bintang. Nanti kalau aku tiba di jakarta pasti aku akan melihat salah satu gedung tinggi yang dibuat ayahku, hasil keringatnya yang sekarang dinikmati orang-orang berduit. Ayahku yang hanya lulusan SMP hanya bisa menjadi pekerja bangunan-nya saja. Nanti kalau gedung itu sudah jadi, dia tidak bisa menikmati bangunan hasil keringatnya, dia hanya bisa memandangnya dari jauh sambil membangun bangunan baru yang mungkin akan lebih tinggi dari bangunan yang dulu ia bangun.
Sedih memang, membayangkan ayah yang begitu menyenangkan seperti dia, sekarang harus rela berpanas-panasan demi keluargaku. Membayangkan jari-jarinya tergores dan terluka membuat air mataku ingin keluar lagi. Tapi tidak! aku sekarang tidak boleh lemah. Ayahku sering berkata bahwa aku harus belajar tegar. Walaupun sebenarnya hatiku selalu menangis saat mendengar kata-katanya itu.
Bintang, sampaikan salamku pada ayahku, ayah terhebat yang pernah aku tau. Jaga dia agar tetap selalu ingat padaku, malam ini mungkin dia sudah tertidur karena kelelahan. Entah tidurnya nyenyak atau tidak disana, ataukah dia sedang kedinginan.
Bintang... aku janji, aku ingin membalas pengorbanan mereka. Aku ingin berbakti kepada mereka. mereka yang sudah merawatku sejak aku kecil. Mereka yang sudah mengeluarkan bertriliun-triliunan butir keringat hanya untuk anaknya. Demi memperjuangkanku agar aku dapat hidup lebih baik dari mereka. Sampaikan pada Tuhan, bahwa aku berterima kasih dilahirkan dari 2 orang tua terbaik di dunia. Semoga Tuhan selalu membalas apa yang telah mereka korbankan untukku.
Lintang Ayu Saputri,
Purwokerto, 15 Mei 2014
Komentar
Posting Komentar
Aku tunggu komentarnya ya!