KISAH TIGA LAYANG-LAYANG

Person Holding A Kite

Sore itu aku sedang menimba air di sumur, sesekali aku menengadahkan kepalaku ke langit. Saat itu langit tampak cerah, awannya berserat tipis seperti bulu ayam. Aku pun memfokuskan pandanganku pada 3 layang-layang yang sedang terbang di sana. Layang-layang yang pertama berwarna biru, layang-layang yang kedua berwarna merah, dan layang-layang yang ketiga berwarna-warni dengan ekor panjang di bagian bawahnya. Ketiga layang-layang itu menari di atas langit. Semakin aku perhatikan, aku seperti mendengarkan layang-layang itu berbicara.

“Lihatlah aku, Akulah layang-layang terhebat disini.” Kata layang-layang biru sambil memutari kedua layang-layang lainnya.

“Kenapa kau berkata seperti itu ?” Tanya layang-layang merah.

“Hahaha... Apa kau tidak lihat warnaku ? Warnaku biru, sama seperti warna langit. Itu artinya akulah penguasa langit.” Jawab layang-layang biru masih membanggakan dirinya.

“Tapi, apa kau tidak melihatku, hei layang-layang sombong!” Kata Layang—layang berekor tak mau kalah.

Layang-layang berekor itu kemudian terbang mengitari layang-layang biru. Ekornya yang terbuat dari plastik berkibar saat layang-layang itu bergerak. Suaranya gemerisik indah sekali.

“Lihatlah ekorku, ekorku bergerak indah saat aku terbang. Dan apa kau tidak lihat warnaku ? Aku punya banyak warna di tubuhku. Sedangkan kau hanya punya satu warna saja.” Kata Layang-layang berekor.

Layang-layang biru yang tidak mau dikatakan sombong pun marah, ia mencoba menggesekkaan tali layang-layangnya ke arah layang-layang berekor. Layang-layang berekor pun seperti itu. Mereka sama-sama tidak mau kalah dan ingin diakui bahwa dirinyalah yang terbaik.

Mereka berdua cukup lama mencoba beradu kekuatan di atas langit. Kadang layang-layang biru terbang menjauh sedikit untuk kemudian kembali menyerang layang-layang berekor. Keadaan terus seperti itu sampai aku mengisi penuh air di ember besar.

Dari dalam rumah, adikku yang baru selesai mengaji di langgar pulang. Aku pun masuk ke dalam rumah untuk membukakan pintu. Aku masih penasaran dengan kelanjutan kisah 3 layang-layang itu. Dengan tergesa-gesa aku kembali ke sumur dan menengok ke arah langit.

Layang-layang biru terbang dengan lemas ke arah timur laut. Tidak beberapa lama terdengar sahutan anak-anak kecil
Pedotan... Pedotan...” seru anak-anak itu.

Sejenak aku pun sadar, ternyata layang-layang biru itu sudah putus. Aku menengok kembali ke langit. Tapi aku tidak melihat adanya layang-layang berekor. Kemana layang-layang itu ? Ah entahlah, sayang sekali aku tidak menyaksikan pertandingan itu sampai akhir. Eh bukankah tadi ada 3 layang-layang ? Layang-layang biru, layang-layang berekor, dan layang-layang merah.

Nah itu dia layang-layang merah,dia masih terbang dengan gagah di angkasa. Aku pun tersenyum dalam hati. Kehebatan suatu saat pasti akan terungkap. Tidak peduli orang lain tahu atau tidak. Tetaplah tenang dan biarkan waktu yang akan menjawabnya.

Lintang Ayu Saputri
Purwokerto, 31 Mei 2014
Dibuat saat musim layangan di desa

Komentar