BAJU

Woman Holding Mirror Against Her Head in the Middle of Forest

Setelah jalan-jalan malam itu, aku segera menatap cermin di kamarku. Lalu bertanya pada Bapakku "Pak, gaya pakaianku udah ketinggalan jaman ya?" Bapakku hanya diam saja. Malam itu aku berkeliling kota dengan bapakku. Sepanjang jalan banyak sekali gadis-gadis seusiaku sedang berjalan, cantik-cantik sekali, seperti model-model di tv. 
Aku kembali menatap bayanganku di depan cermin... Kenapa aku tidak seperti mereka ???


Kalau aku berpegian, aku hanya berpakaian apa adanya. biasanya hanya rok, baju, dan kerudung polos yang selalu setia membalut tubuhku. Huh, sungguh beda sekali dengan gaya mereka. Aku mengeluh dalam hati. 

Aku memang termasuk anak yang aneh. Ibuku saja berkata kalau aku beda dengan yang lain. Saat gadis-gadis remaja yang lain senang berbelanja pakaian, aku tidak pernah meminta baju baru ke ibuku. Mungkin aku hanya beli baju baru saat lebaran saja. Selain itu, aku tidak pernah menuntut dibelikan baju baru. Aku juga sadar, bahwa orang tuaku bukanlah seperti orang tua mereka yang dengan mudah mengeluarkan uang. Orang tua ku harus bekerja keras untuk dapat terus bertahan hidup. Jadi untuk meminta sebuah baju baru seperti yang lainnya aku harus berpikir berulang kali.

Keadaan ini yang membuatku terbiasa dengan hidup sederhana. Hidup yang tidak neko-neko. Namun aku tetap mensyukurinya. Aku sadar bahwa kecantikan itu bukanlah karena baju-baju cantik yang mereka pakai. Tapi berasal dari hati yang tulus dan ikhlas. Aku sudah cukup senang untuk tidak menambah beban orang tuaku. Biarkanlah mode bajuku ketinggalan jaman. Toh siapa yang akan perduli ?? bukankah baju hanya sebagai hiasan saja. Selama pakaian kita bersih, itu sudah lebih dari cukup. Ingat, diluar sana banyak yang belum beruntung. Mereka hanya tidur mengenakan kaus tipis yang mungkin kalau di rumahku kaus itu sudah dipakai untuk lap. Seharusnya kita lebuh mensyukuri apa yang kita punya.

Sekali lagi aku menatap ke cermin yang menggantung di dinding kamarku, "hmm... tidak terlalu buruk juga", akupun tersenyum pada bayang-bayangku sendiri

Lintang Ayu Saputri,
Purwokerto, 22 Mei 2014

Komentar